Kebudayaanmenurut seorang antropolog yang bernama E.B. Teylor mengatakan kebudayaan adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusasteraan, hokum, adat istiadat serta kesangaupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari oleh manusia sebagai anggota suatu masyarakat. Selanjunya juga menurut Ralp Linton bahwa
Selain terkenal memiliki banyak warisan parwisata dan budayanya, ternyata Sumatera Utara juga memiliki banyak museum yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi. Salah satu museum yang populer di Sumatera Utara adalah Museum Batak di Balige. Museum ini terletak di tepi selatan Danau Toba, tepatnya di Desa Silalahi, Kota Balige, Kabupaten Toba Samosir.
IniDia Pakaian Adat Papua Lengkap dengan Gambarnya. Pakaian Adat Papua - Seperti yang kita tahu Negara kita Indonesia adalah salah satu Negara yang sangat kaya sekali dengan keanekaragaman budaya, adat dan bahasanya. Bahkan di setiap daerah atau wilayah Indonesia memiliki adat dan budaya serta bahasa yang berbeda-beda.
physicalgeography slideshare; tefi new boyfriend reddit; used hay conditioner for sale near singapore oriental shorthair near me; kya hua pakda ja chuka hai boos block kekurangan intel pentium silver n6000. pcf gallery lookup does the business qualify for a fee exempt license in this city; crisis loan manchester city council
PakaianHolim. Pakaian holim merupakan pakaian untuk para pria yang berasal dari suku Dani di Papua. Pakaian ini biasanya digunakan untuk sehari hari. Pakaian holim biasanya lebih dikenal dengan nama koteka yang terbuat dari bahan dasar kulit labu air. Suku suku di Papua sendiri juga memiliki beberapa bentuk koteka yang berbeda beda.
ModelBaju Kain Batik Papua : Batik Papua Alam Dan Budaya Adalah Inspirasinya Berikut ini gambar serta perlengkapan busana adat sumatera barat. Batik is made either by drawing dots and lines of the resist with a spouted tool called a canting, or by printing the resist with a copper stamp called a cap. Celana pendek sebatas lutut lengkap
Berikutini daftar nama rumah adat Papua beserta keunikan, gambar, dan penjelasannya lengkap. Kategori. Salah satu daya tarik provinsi Papua adalah kebudayaan dan adatnya, termasuk juga rumah adat, tarian, dan wisatanya. rumah adat provinsi yang dulunya disebut dengan Irian Jaya ini juga ada yang memiliki pintu dan jendela secara
Berbicaratentang adat istiadat, Papua mempunyai berbagai keunikan yang menjadikan hal tersebut sebagai ciri khas masyarakat di sana. Berikut lima tradisi unik dari Papua yang wajib kamu ketahui. 1. Tradisi Iki Palek. goodnewsfromindonesia.id. Apakah kamu pernah membayangkan jika jarimu dengan sengaja dipotong?
SukuPapua : Sejarah, Kebudayaan dan Adat Istiadat [Lengkap]- LezGetReal. Juni 1, 2022. Suku Papua - Papua adalah pulau yang terletak di bagian paling timur Indonesia. Sebelumnya Papua disebut Irian Barat atau Irian Jaya. Di sana terdapat banyak Suku Papua yang beragam.
DaftarLengkap Nama Rumah Adat Papua Beserta Penjelasan Uniknya. Selain rumah Honai, berikut ini adalah beberapa jenis rumah adat yang ada di Papua: 1. Ebai. Berasal dari kata "ebe" yang berarti tubuh dan "ai" yang berarti rumah. Dalam hal ini wanita dianggap sebagai simbol tempat tinggal bagi kehidupan. Ebai menjadi tempat tinggal bagi
NExQr. Semua orang pasti mengenal rumah adat Papua, karena Papua sendiri merupakan salah satu pulau paling besar di negara Indonesia, luasnya saja mencapai km2. Tidak hanya itu saja, pulau yang berlokasi di sebelah timur Indonesia ini ternyata sumber daya alamnya sangat melimpah. Bahkan selain kekayaan alamnya melimpah, Papua juga memiliki tradisi, budaya, dan adat yang masih terjaga dengan baik. Itu karena Papu memiliki deretan cerita sejarah yang menakjubkan. Papua yang dulunya disebut sebagai Irian Jaya ini memiliki banyak sekali rumah adat, lengkap dengan filosofinya. Sehingga hal ini membuatnya terlihat unik dimata masyarakat. Berdasarkan Kementrian Kebudayaan menyebutkan bahwa suku asli Papua berjumlah 255. Semuanya memiliki perbedaan bahasa, pakaian dan rumah adat. Maka dari itu, tak heran jika para pecinta dunia arsitektur pasti penasaran dengan rumah adat Papua. Karena rumahnya mempunyai nilai tradisi tinggi, sehingga hal ini membuatnya berbeda dari desain hunian pada umumnya. Setidaknya ada 5 jenis rumah adat Papua yang menarik untuk dikupas, yaitu Rumsram, Ebai, Kariwari, Wamai, dan Honai. Penasaran seperti apakah karakteristik setiap rumah tersebut? Di bawah ini akan kami kupas selengkapnya tentang serba-serbi rumah adat khas Papua beserta jenisnya. Serba-serbi Rumah Adat Papua Umumnya hampir semua rumah adat Papua itu atapnya berbentuk bulat. Semuanya ditutupi oleh rumput ilalang dan jerami yang telah dikeringkan. Setiap bangunannya bentuknya terlihat sama, baik dari bahannya sampai dengan ukurannya. Namun meskipun begitu, banyak wisatawan dari dalam dan luar negeri selalu dibuat penasaran olehnya. Misalnya saja dari segi bentuknya, hampir semua rumah adat di Papua itu bentuknya seperti jamur, sedangkan atapnya berbentuk kuali. Bentuk bangunannya sering terlihat di kawasan pedalaman yang masih erat dengan nilai adat dan budaya setempat. Selanjutnya dari segi bahan bangunannya. Umumnya bahan rumah adat Papua itu berasal dari ilalang atau jerami. Ilalang atau jerami biasanya digunakan sebagai atap rumah. Sedangkan pondasinya terbuat dari susunan batang kayu. Salah satu hal yang membuat rumah Papua terlihat unik adalah beberapa diantaranya tanpa pintu dan jendela, namun ada juga yang memiliki jendela dan pintu. Tentunya mereka memiliki alasan tertentu kenapa rumahnya ada yang memiliki pintu dan jendela, namun beberapa diantaranya tidak memilikinya. Sementara itu dari segi ukurannya, umumnya ukuran rumah adat Papua itu kecil. Bahkan setiap 1 rumah hanya bisa dihuni satu keluarga saja atau beberapa orang. Selain itu, ada juga beberapa peraturan yang erat dengan rumah adat Papua, yaitu ada yang hanya boleh ditempati para pria atau wanita saja. Disamping itu, ada pula rumah Papua yang sengaja dibuat khusus untuk rumah binatang peliharaan mereka. Di bawah ini adalah macam-macam rumah adat khas Papua, antara lain Rumah Adat Honai Papua Saat berkunjung ke Papua yang terletak di kawasan pegunungan atau lembah, maka Anda mungkin akan menemukan rumah Honai. Rumah adat ini memiliki ciri khas harus dibangun pria dewasa yang berasal dari suku Dani. Itupun yang boleh menempatinya hanya pria dewasa saja. Honai sendiri berasal dari kata hun yang berarti pria, sedangkan ai adalah rumah. Pembuatan rumah adat Papua Honai ini harus menghadap ke arah matahari tenggelam dan terbit. Umumnya rumah ini ketinggiannya 2,5 meter saja. Sementara untuk ukuran luasnya hanya 5 meter. Jadi hanya ada 1 pintu saja, tanpa jendela. Meskipun ruangannya sempit, namun rumah adat Papua ini mampu menahan udara dingin di daerah pegunungan. Maka dari itu, di bagian tengah ruangannya selalu dilengkapi dengan lingkaran untuk menyalakan api, supaya penghuninya bisa menghangatkan badan dan bisa juga dijadikan sebagai pengganti lampu di dalam rumah. Rumah Adat Ebai Papua Rumah Ebai ini biasanya terletak bersebelahan dengan Honai. Khusus untuk rumah adat Ebai ini hanya ditempati oleh anak-anak dan wanita saja. Bila dilihat dari segi bentuknya, rumah ini hampir sama seperti Honai. Hanya saja ukurannya lebih melebar ke samping dan pendek. Umumnya rumah adat Papua Ebai ini dimanfaatkan para wanita untuk melakukan kegiatan rumah tangga, seperti memasak. Disamping itu, di rumah inilah biasanya para ibu mengajarkan anak-anak mereka tentang kehidupan yang sebenarnya. Jadi bisa dibilang bahwa ini seperti rumah tumbuh untuk anak-anak. Rumah Adat Wamai Papua Karena kebanyakan masyarakat suku Papua merupakan seorang peternak, itulah sebabnya rumah adat Papua ini diciptakan untuk kandang binatang peliharaannya. Biasanya para warga masyarakat menggunakannya untuk kandang babi dan ayam. Untuk ukurannya sendiri tergantung dari jumlah hewan ternak yang tinggal didalamnya. Desain rumah adat Papua ini berbeda sekali dengan hunian yang lainnya. Karena atap untuk rumah Wamai itu lebih kerucut. Sedangkan untuk ukuran ketinggiannya sama seperti rumah Ebai, yang membedakan hanya cara pemanfaatan rumahnya. Rumah Wamai hanya digunakan untuk binatang ternak. Lihat Juga Rumah Adat Sulawesi Selatan Rumah Adat Kariwari Papua Jenis rumah adat Papua ini biasanya dibangun oleh suku Enggros dan Tobati. Umumnya jenis bangunan ini sering ditemukan di kawasan Danau Sentani Jayapura. Rumah adat ini biasanya disebut Kariwari karena digunakan untuk tempat belajar anak-anak, terutama laki-laki. Di rumah inilah anak-anak diajarkan cara mencari nafkah dan menghadapi hidup setelah dewasa. Bentuk atap rumahnya menjulang tinggi kerucut. Ukurannya lebih besar dari rumah adat Papua pada umumnya. Untuk bahan pembuatannya berbeda-beda, ada yang masih menggunakan kayu dan jerami untuk bahan dasar bangunan. Selain itu, ada juga yang memakai atap supaya terlihat modern. Rumah adat Papua Kariwari ini biasanya dibangun 3 lantai. Lantai paling bawah digunakan sebagai tempat pendidikan. Selanjutnya lantai dua digunakan sebagai tempat pertemuan bagi para petinggi suku yang ada disana. Kemudian lantai 3 untuk tempat meditasi dan berdoa para masyarakat Papua. Baca Juga Rumah Adat Jawa Barat Rumah Adat Rumsram Papua Salah satu perbedaan yang paling mencolok dari jenis rumah adat Papua ini adalah berbentuk panggung. Selain itu, atap rumahnya berbentuk seperti kapal. Untuk ketinggiannya sendiri biasanya dibangun hingga 8 meter dan ditempati oleh para masyarakat dari suku Biak Numfor. Selain itu, rumah Rumsram ini biasanya dipakai untuk tempat belajar suku Biak. Khususnya untuk anak laki-laki yang akan belajar memahat sampai berperang. Bangunan rumahnya berasal dari bambu dan kayu sehingga pondasinya sangat kokoh. Atap rumah Papua Rumsram ini berasal dari daun sagu. Biasanya rumah adat Papua ini dibangun 2 lantai, yaitu lantai pertama tanpa dinding supaya luas untuk ruang belajar anak laki-laki. Dilihat dari manapun, rumah adat milik Papua memang sangat menarik. Karena sampai sejauh ini desainnya masih dipertahankan oleh warga setempat untuk tempat tinggal mereka sehari-hari. Hal ini membuktikan bahwa dengan masih banyaknya rumah adat Papua yang dibangun, artinya para warga sekitar sangat menjunjung tinggi budaya dan tradisi mereka secara turun-temurun.
Pakaian Adat Papua – Seperti provinsi daerah lain, pakaian adat Papua juga menjadi kekayaan budaya yang harus dilestarikan. Papua memiliki keunikan tersendiri baik dari bahasa, kebiasaan, makanan hingga pakaian seperti salah satunya pakaian adat Papua untuk menutupi kemaluan laki laki bernama koteka. Artikel terkait Pakaian Adat Bali Ada beberapa pakaian adat Papua lain yang mungkin belum anda ketahui. Berikut akan kami berikan informasi tentang beberapa pakaian adat Papua dan juga pakaian adat Papua Barat selengkapnya untuk anda. Daftar Nama Pakaian Adat PapuaPakaian SaliRok Rumbia PapuaPakaian HolimYokalHiasan Rumbai KepalaRok Rumbai PriaBaju KurungBaju Kani Rumput Pakaian Sali Pakaian Sali merupakan baju adat Papua perempuan yang masih lajang atau belum menikah. Bahan dasar dari pakaian sali ini juga tidak kalah unik karena terbuat dari kulit pohon. Warna yang dihasilkan dari kulit pohon yang akan digunakan untuk pakaian juga harus berwarna coklat untuk menghasilkan pakaian adat yang sempurna. Rok Rumbia Papua Pakaian adat Papua selanjutnya adalah rok rumbia. Baju adat Papua perempuan ini dibuat dari susunan daun sagu kering yang nantinya akan digunakan untuk menutupi bagian tubuh tertentu seperti tubuh bagian bawah. Rok rumbia ini tidak hanya digunakan oleh wanita saja namun juga bisa digunakan oleh pria. Ketika pria memakai koteka dan wanita memakai rok rumbai, maka mereka sama sama tidak menggunakan baju atasan. Masyarakat Papua hanya menyamarkan tubuh bagian atas mereka dengan lukisan atau tato yang terbuat dari tinta alami. Untuk motif tatonya sendiri juga sangat bervariasi namun hanya seputar bentuk flora dan fauna khas dari Papua. Pakaian Holim Pakaian holim merupakan pakaian untuk para pria yang berasal dari suku Dani di Papua. Pakaian ini biasanya digunakan untuk sehari hari. Pakaian holim biasanya lebih dikenal dengan nama koteka yang terbuat dari bahan dasar kulit labu air. Suku suku di Papua sendiri juga memiliki beberapa bentuk koteka yang berbeda beda. Sebagai contoh, orang dari suku Tiom memakai dua buah labu air secara sekaligus berbeda dengan suku lain yang hanya memakai satu labu air saja. Beberapa suku di Papua juga menyebut pakaian holim ini dengan beberapa nama seperti bobbe, harim atau hilon. Pakaian holim biasanya dipakai sehari hari dan juga ketika melakukan upacara adat dengan cara diikat ke pinggang menggunakan tali sehingga bagian bagian ujung koteka ini akan mengacung ke arah atas. Sementara untuk acara adat, pakaian tradisional Papua yang digunakan lebih panjang lengkap dengan ukiran etnik dan untuk aktivitas sehari hari ukurannya lebih pendek. dari beberapa jenis pakaian adat Papua lain, pakaian holim ini lebih terkenal bahkan turis dari mancanegara yang datang ke Papua juga biasanya akan membeli pakaian holim ini sebagai oleh oleh khas Papua. Namun seiring berjalannya waktu, pakaian adat Papua ini sudah mulai jarang digunakan bahkan koteka sendiri juga dilarang digunakan di tempat umum seperti sekolah atau kendaraan umum sehingga hanya diperjualbelikan sebagai cinderamata saja. Sejak sekitar tahun 1950, para misionaris mulai mengkampanyekan pemakaian celana pendek untuk menggantikan pakaian holim atau koteka. Namun hal tersebut tidaklah dilakukan dengan mudah sebab suku Dani di Lembah Baliem pada kala itu terkadang memang memakai celana namun tetap ingin mempertahankan pemakaian koteka tersebut. Pemerintah RI pada tahun 1960 juga berusaha untuk mengurangi penggunaan koteka dengan kampanye antikoteka pada tahun 1964 yang digelar oleh Gubernur Frans Kaisiepo. Yokal Yokal adalah baju adat Papua perempuan khususnya Papua Barat dan daerah sekitarnya. Pakaian adat Papua ini hanya boleh dikenakan oleh perempuan yang sudah berkeluarga. Pakaian ini biasanya bisa dengan mudah anda lihat di daerah pedalaman Papua. Pakaian pakaian tradisional papua ini memiliki warna coklat agak kemerahan yang bukan untuk dijual atau dibeli namun menjadi simbol masyarakat Papua yang menggambarkan kedekatan dengan alam. Hiasan Rumbai Kepala Sebagai pelengkap pakaian daerah, bagian kepala masyarakat Papua juga akan ditambahkan dengan hiasan rumbai rumbai yang berbentuk seperti sebuah mahkota. Hiasan rumbai kepala ini terbuat dari bahan bulu burung kasuari dan juga bulu berwarna putih yang diambil dari bulu kelinci. Rok Rumbai Pria Rok rumbai memang menjadi baju adat Papua perempuan dan juga digunakan oleh laki laki. Rok rumbai untuk pria ini terbuat dari daun sagu yang digunakan untuk menutupi kemaluan pria saja. Sementara pada bagian kepala juga dilengkapi dengan hiasan dari bulu burung dan daun sagu yang dibentuk dengan rapi. Pakaian adat Papua untuk pria juga dilengkapi dengan beberapa hiasan seperti daun sagu dan juga taring babi. Beberapa aksesoris tersebut menjadi simbol kejantanan dari para lelaki Papua. Selain itu, pria papua juga menggunakan aksesoris lain yang tidak kalah unik yakni gelang dan kalung yang terbuat dari gigi anjing dan juga bulu cendrawasih. Baju Kurung Baju kurung merupakan pakaian khas Papua dan juga Papua Barat yang digunakan sebagai atasan dari rok rumbai. Baju kurung tersebut terbuat dari kain beludru yang dilengkapi juga dengan beberapa hiasan rumbai bulu pada bagian tepi leher, lengan atau pada bagian pinggang. Baju atasan wanita Papua dan Papua Barat ini sebetulnya mendapat pengaruh dari kebudayaan luar sehingga bisa disebut dengan baju adat Papua modern yang biasanya hanya digunakan oleh masyarakat Papua dan Papua Barat yang tinggal di sekitar kota Manokwari. Busana adat Papua juga akan dipercantik dengan penggunaan gelang dan kalung yang terbuat dari biji bijian keras lalu dirangkai dengan benang. Sementara untuk penutup kepalanya menggunakan bulu burung kasuari. Baju Kani Rumput Baju kani rumput adalah pakaian adat suku Papua modern, lebih tepatnya dari Sorong Selatan yang bisa digunakan oleh pria atau wanita. Baju kani rumput ini terbuat dari daun sagu yang sudah dikeringkan. Daun sagu yang digunakan juga harus daun yang masih pucuk dan diambil ketika sedang pasang air laut. Sesudah melewati proses pengeringan dan juga perendaman dalam cara membuat pakaian adat Papua ini, baju kani rumput kemudian akan dipintal secara manual atau lebih sering disebut dengan dianyam. Dalam proses menganyam, masyarakat Papua hanya memakai kayu sepanjang 1 meter yang digunakan untuk mengaitkan ujung ujung tali. Rumput kering lebih dulu akan dipilin menjadi satu yang nantinya akan digunakan sebagai karet pada bagian pinggang atau disebut dengan tali. Masyarakat Papua memberikan variasi jumlah dari tali tersebut minimal sebanyak 2 tali. Untuk satu pakaian ini akan dihargai sebesar 500 ribu sebagai rok. Namun jika ingin satu pasang baju, maka harga yang harus dibayar juga dua kali lipat yakni 1 juta. Masyarakat Sorong Selatan biasanya akan memakai pakaian ini pada acara adat seperti pesta antar mas kawin. Jika anda ingin mendapatkan pakaian adat Papua ini, anda tidak perlu jauh jauh datang ke Sorong Selatan, sebab di Pantai WTC Raja Ampat sering diadakan bazar Sidang Sinode GKI dimana anda bisa melihat masyarakat yang sedang membuat baju adat ini atau untuk membelinya.
Rumah Adat Papua – Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman adat istiadat dan budaya. Pada tiap daerahnya memiliki ciri khas yang berbeda, salah satunya adalah Papua. Di pulau Irian tersebut terdapat rumah adat Papua yang unik dan bentuknya memiliki pilosofi atau makna tersendiri dari setiap suku nya. Untuk lebih lengkapnya lagi simaklah pembahasan kami mengenai Materi Rumah Adat Papua meliputi Nama, Ciri Khas, Gambar beserta Penjelasannya di bawah ini. Rumah Adat Papua1. Honai2. Ebei3. Wamai4. Kariwari5. RumsramShare thisRelated posts Wilayah Papua menjadi wilayah yang paling luas diantara Provinsi lainnya. Papua memiliki etnik budaya yang sangat beragam dari tiap sukunya. Masyarakat Papua sampai saat ini masih menjunjung tinggi adat istiadat suku mereka. Hal tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari hari oleh masyarakatnya. Adat tersebut tetap mereka lestarikan dengan tujuan salah satunya adalah agar kebudayaan suku mereka tetap lestari. Walaupun sedikit berbeda dengan wilayah Indonesia yang lain, namun penduduk Papua sangat menghargai perbedaan antar sesama. Rumah adat Papua memiliki bentuk dan filosofis atau makn masing masing, material yang digunakan dalam membangun rumah adat pun tidak sama. Hal inilah yang menjadikan Papua semakin eksotik. Beriku ini adalah Nama nama rumah adat Papua beserta penjelasannya 1. Honai Honai adalah rumah adat Papua yang menjadi tempat tinggal bagi suku Dani. Honai ini sendiri menjadi tempat yang dihuni oleh laki-laki dewasa. Honai berasal dari kata “hun” atau laki-laki dan “ai” yang berarti rumah jadi Honai adalah rumah untuk laki-laki. Biasanya Honai bisa kita jumpai di lembah dan pegunungan. Dinding rumah ini terbuat dari kayu dengan atap yang menggunakan jerami yang berbentuk kerucut, jika kita lihat sekilas bentuknnya menyerupai jamur. Bentuk atap yang memang sengaja di rancang seperti jamur tersebut bertujuan untuk melindungi permukaan dinding dari air hujan, juga mengurangi hawa dingin dari lingkungan sekitar. Honai adalah rumah yang tidak memiliki jendela, hanya terdapat satu buah pintu. Rumah ini memiliki tinggi 2,5 meter dengan ruangan yang sempit yaitu sekitar 5 meter. Hal tersebut bertujuan untuk menahan suhu yang dingin. Di bagian tengahnya dibuat lingkaran yang menjadi tempat membuat api untuk menghangatkan badan sekaligus penerangan. 2. Ebei Ebai diambil dari kata “ebe” yaitu tubuh dan “ai” yang berarti rumah. Sehingga dapat disimpulkan bahwa rumah Ebai merupakan rumah bagi sebuah kehidupan. Ebai menjadi tempat bagi anak anak perempuan dan biasa digunakan untuk melakukan proses pendidikan bagi anak perempuan mengenai kehidupan khususnya kehidupan setelah menikah. Selain itu, Ebai juga menjadi tempat tinggal bagi ibu-ibu, anak perempuan dan anak laki-laki. Namun anak laki-laki yang telah dewasa akan pindah ke Honai. Rumah Ebai tidak jauh berbeda dengan honai, perbedaannya hanya terletak pada ukurannya saja, ukuran yang lebih pendek dan kecil. Berada di samping kanan atau kiri honai serta pintunya tidak sejajar dengan pintu utama. Ciri khas dari ebei ini, Rumah ini memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan rumah Honai. Biasanya berada di samping kanan atau kirinya. Pintu rumah Ebai ini tidak sejajar dengan pintu utama rumah Honai. 3. Wamai Wamai adalah rumah yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan hewan peliharaan, seperti babi, kambing, ayam, anjing dan masih banyak lagi. Bentuk dan ukuran rumah wamai ini memiliki banyak sekali ukuran yang berbeda tergantung besar dan banyaknya jumlah hewan peliharaan yang dimiliki oleh masing-masing keluarga. Ciri khas rumah ini adalah memiliki atap kerucut yang terbuat dari bahan jerami. Bahkan hampir mirip sama dengan bentuk rumah honai maupun Ebai. Hanya saja rumah ini diperuntukkan untuk hewan peliharaan. Bentuk rumah ini dirancang dalam bentuk kerucut yang bertujuan untuk mengurangi angin dan suhu dingin di daerah tersebut karena banyak pegunungan. 4. Kariwari Kariwari adalah rumah adat Papua yang dihuni oleh suku Tobati-Enggros yang tinggal di tepi Danau Sentani, Jayapura. Rumah ini menjadi rumah khusus bagi laki-laki yang sudah menginjak umur sekitar 12 tahun. Rumah ini digunakan untuk mendidik anak-anak tersebut mengenai apa yang harus dilakukan oleh laki-laki seperti pengalaman hidup dan mencari nafkah setelah menikah. Di rumah itu mereka diajarkan untuk menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan berani serta kuat. Pelajaran yang didapatkan misalnya membuat perahu, cara berperang, membuat senjata, memahat dan masih banyak lagi. Ciri khas dari rumah ini adalah memiliki bentuk segi delapan yang menyerupai limas. Bentuk tersebut dirancang dengan tujuan untuk menahan hembusan angin yang kuat. Sedangkan atapnya berbentuk kerucut. Menurut kepercayaan masyarakat disana untuk mendekatkan diri kepada para leluhur. Tinggi rumahnya pun berbeda-beda, dari 20-30 meter. Terdiri dari 3 lantai yang masing masing lanta tersebut memiliki fungsinya masing masing. 5. Rumsram Rumsram adalah rumah adat Papua dari suku Biak Numfor yang terletak di pulau-pulau. Rumah ini menjadi tempat untuk laki-laki. Seperti kariwari, rumah ini digunakan untuk mendidik anak remaja laki-laki dalam pencarian pengalaman hidup, serta cara untuk menjadi laki-laki yang kuat dan bertanggungjawab sebagai kepala keluarga kelak. Ciri khas dari Rumsram ini adalah memiliki bentuk persegi seperti rumah panggung, dengan beberapa ukiran pada beberapa bagiannya dan atapnya seperti perahu terbalik yang menandakan mata pencaharian penduduknya sebagai nelayan. Tinggi Rumsram kurang lebih sekitar 6 sampai 8 meter. Terdiri dari 2 tingkat. Lantai pertama bersifat terbuka, memiliki dinding. Yang menjadi tempat pendidikan bagi laki-laki misalnya membuat perahu, memahat, membuat alat berperang dan lain-lain. Seperti Kariwari, bangunan rumah rumsram pada bagian lantainya terbuat dari kulit kayu yang dindingnya terbuat dari pohon bambu yang di cacah. Memiliki 2 buah pintu pada bagian depan dan belakang serta beberapa buah jendela, dan atapnya terbuat dari daun sagu. Demikianlah pembahasan kami mengenai Materi Rumah Adat Suku Papua. Semoga bermanfaat. Artikel lainnya Rumah Adat Sulawesi Selatan – Nama, Gambar, dan Penjelasan Rumah Adat Jawa Barat Gambar dan Pengertiannya Rumah Adat Jawa Tengah Sejarah, Bentuk, Bagian dan Ciri Khas